Korban
Om Telolet Om
“Sri, Didin
ke mana? Sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” Tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi
bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Teloletan, Bu.” Jawab
Sri.
“Oalah Din, Telolet ki
panganan opo? Lha mbok baca sholawat di rumah, bisa untuk sangu akhirat.
“Ya ndak tau, Bu. Wajar
aja, kan Telolet sekarang lagi buming
Bu.” Sanggah Sri.
Pagi buta, sebelum
subuh, Didin terbangun sumringah. Kali ini sang mentari dapat ia kalahkan. Lekas
ke kamar mandi, mungkin mau wudlu, eh, ternyata cuma buang air. Tak lama-lama,
ia lekas balik ke kamar dan buka bbm. Chat ke grup, ya grup Telolet Hunting namanya, entah dari mana
asal nama itu. Dalam grup itu, dibahas banyak hal, yang pasti ya telolet lah. Mungkin
karena mau pergi, ia salat betul-betul di awal waktu. Sarapan seadanya, ia
berangkat dengan tas kecil kesayangannya dengan dompet, headset, power bank, dan hp di dalamnya. Tak lupa, kertas gambar
A3 yang ia tulisi “Om Telolet Om” ia genggam erat-erat. Tapi sayang, minta izin
ke Ibunya ia lupakan begitu saja.
Motornya lagi sakit
dari kemarin, makanya ia nebeng kakak iparnya, Zulkifly namanya. Alangkah pekanya,
Didin di jemput. Ya bukan peka sih, tapi mereka sudah janjian kali. Dengan
berbocengan mesra, ya enggak lah, mereka langsung beranjak ke ankringan, di
mana mereka biasa kumpul. Di situ sudah ada Adit dan Satmoko yang telah
menunggu sambil udud-udud, maklum anak muda.
“Maaf ya teman, baru
datang.” Pinta maaf Didin.
“Halah, iya-iya. Kita
juga baru sampai ya Dit ya.” Jawab Satmoko sembari memainkan asap rokok yang ia
makan, eh hisap.
“Iyo Din, santai ja.”
Cakap Adit singkat.
“Cus ayo berangkat pak,
keburu siang.” Ajak Zulkifly.
Tanpa pikir panjang,
mereka langsung berangkat. Tempat perburuan pertama mereka adalah Jalan Kebon
Polo. Suasana pasar yang sangat ramai berbanding terbalik dengan bus yang
mereka cari. Mungkin terlalu pagi, para sopir masih keenakan ngopi. Berempat
berdiri di pinggir jalan. Dengan wajah penuh harapan, mereka tunggu bus lewat.
Tak lama, bus jurusan Semarangan lewat.
“Om Telolet Om, Om
Telolet Om.” Berulang kali kalimat itu mereka lontarkan ke hadapan bus.
Namun, hanyalah cuekan
yang ia dapatkan dari sang sopir. Mereka tak sakit hati, wajar saja hal
tersebut sudah sering mereka alami. Kasihan. Malahan di tempat itu, mereka
seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Orang Magelang pasti tau to bus
Cebong Jaya, hahaha. Sopirnya yang kayak pembalap, ugal-ugalan maksudnya.
Dengan perasaan agak
mutung, mereka pergi ketempat lain. Keliling kota, bahkan mengejar bus sekali
pun dilakukan. Berkat kegigihannya, mereka dapatkan buruan pertamanya. Kali
ini, Didin dan Zulkifly yang mampu mengejar kecepatan bus. Jangan tanya Adit
dan Satmoko, mereka tertinggal jauh di belakang. Wajar saja, bus jalannya kayak
dikejar, emang dikejar kali ya, dikejar setoran.
‘Om Telolet Om.” Teriak
Didin ke sopir. Kebetulan mereka berada di sebelah kiri persis badan bus.
Alangkah bahagianya
mereka setelah apa yang ia minta, oleh sopir dituruti. Sayangnya, momen itu tak
dapat mereka abadikan, karena si Adit dan Satmoko tak kunjung menyusul. Mereka
kemudian istirahat sejenak, sembari menunggu kedua temannya yang entah kemana.
Istirahat di masjid agung Magelang ya, bukan Demak. Budaya desa yang kental ia
pelihatkan, salat dengan segera dilakukan. Itu bagusnya, tapi sehabis salat,
tahu sendiri lah ngapain, tidur, mendengkur lagi. Enak tidur, Adit dan Satmoko
pusing mau kemana ia pergi. Lantas apa yang dilakukan.
“Dit, aku udah capek
cari mereka, pulang aja yo.” Keluh Satmoko.
“Iya pulang aja yo.” Adit
menyetujui.
“Eh ke Tawon dulu ya,
es degan enak wis, aku yang bayar kok. Tenang aja.” Ajak Satmoko.
“Oke, ayo.” Jawab Adit
senang.
Sesampainya di Tawon, mereka
memesan apa yang mereka iginkan. Mungkin karena setengah harian panas-panasan,
es degan utuh jadi pilihan.
“Bu, es degan utuh dua
ya Bu!” ucap Satmoko di depan kasir. Sedangkan si Adit telah duduk manis
menunggu.
“Ya.” Jawab Ibu kasir.
“Es degan utuh dua.”
Teriak Ibu kasir kepada algojo-algojo pemecah kelapa.
Puas mium degan, mereka bermalas-malasan di
situ. Ada sendau gurau kecil yang sepintas terjadi, namun berlalu begitu saja.
Satmoko sampai tiduran, keasyian mainam hp
sambil udud-udud. Adit, anak IT,
mainan kamera, tapi entah apa yang ia lakukan. Memfoto juga enggak, apa
lihat-lihat foto, tapi juga enggak karena masih kosong kamera itu. Karena
bermain kamera, Adit jadi ingat Didin dan Zulkifly.
“Btw, Didin sama
Zuklifly kemana ya.” Tanya Adit.
“Oh iya, ayo kita cari
Dit. Tapi salat dulu ya. Sekalian mumpung deket masjid, lagian udah jam jam
satu lebih.” Ajak Satmoko.
Setelah beranjak dari
duduknya, Satmoko membayar di kasir. Tak lupa uang kembalian yang ia pegang, ia
berikan ke tukang parkir yang telah menunggu kepulangannya. Lantas mereka
segera ke masjid. Wudlu, Satmoko terkejut setelah melihan dua orang yang
enak-enak tiduran di teras masjid, ya Didin dan Zulkifly itu. Tapi jangan tanya
ekspresi Adit gimana, ya biasa aja, innocent
dia.
“Heh, bangun-bangun,
malu ah di masjid malah enak-enak tidur.” Bisik Satmoko.
“Iyo-iyo, ngerti ra, kita
tuh capek-capek ngejar bus, udah dapat telolet, malah kalian mbuh menyang endi.”
Keluh Zulkifly.
“Ya maaf, kita ketinggalan
ya Dit, motor tua biasa.” Jawab Satmoko seperti merasa tak berdosa, eh
bersalah.
“Sana salat, wah.” Ucap
Didin dengan muka tikarnya.
Adit dan Satmoko salat,
sedangkan Didin dan Zulkifly lanjut mimpi. Ya maklum, mereka bangun terlalu
pagi. Seperti layaknya rumah sendiri, mereka tak menghiraukan orang-orang di
sekitar. Padahal takmir masjid pun sudah memberi teguran. Jangan ditiru ya
sikap mereka, oke. Setelah salat, mereka membahas untuk berbutu telolet ke mana
lagi. Teras masjid mereka jadikan tempat diskusi, yang biasa ia lakukan di
angkringan desa. Memojok di sebelah kanan teras masjid sambil sadaran pagat.
“Ayo, pak. Mau gimana,
cari neh to? Masa pulang, cari lagi lah, belum dapat telolet soalnya.” Ajak Zulkifly.
“Iya, betul, ayo cari
lagi.” Jawab Satmoko.
“Sip-sip.” Jawab Adit singkat, untuk yang kesekian kalinya.
“Ngikut aja lah.” Ucap
Didin dengan terpaksa. Dalam hatinya ingin pulang mungkin karena capek, minta
istirahat. Tetapi pulangnya? Kan cuma nebeng kakaknya.
Mereka lantas menyusuri
sepanjang jalan, tak patah semangat, terus mencari dan mencari. Puluhan kilo
mereka berjalan, tak terhitung berapa lampu merah dan polisi tidur ia lewati.
Mereka capek, capek karena tak dapat apa-apa. Isirahat di pom bensin, dan
merencanakan pulang. Terlihat dari raut wajah yang telah murka. Kertas yang
Didin bawa, di buang begitu saja ke tempat sampah. Mereka sedang tidak
beruntung kali ini, satu pun tidak didapat. Hal tersebut, membuat Didin semakin
badmood. Didin berkali-kali mengajak
Zul pulang. Tapi, Zul hanya menghiraukan. Malahan Zul memarahi Didin.
“Ayo ah pulang aja,
males aku, capek, mending pulang terus tidur.” Keluh Didin.
“Heh, gimana to kamu
Din. Kok ita-itu,tadi pagi sehabis subuhan kamu bilang apa. Gas-gasan pingin
teloletan.” Zulkifly menjawab dengan nada sedikit murka.
“Ya gimana ya, tak kira
nggak bakal kayak gini. Aku menyesal, kalau tau mau kayak gini, mending tadi
aku nggak usah ikut kalian.” Bantah Didin kesal.
“Kok malah ngajak gelut
to, mau mu apa sekarang, he?” Tanya Zulkifly dengan raut muka marah.
“Heh, udah to. Gak udah
pada gelutan.” Sanggah Adit meredakan.
“ Eh kawan, aku punya
ide. Gimana kalau kita gak usah capek-capek keliling jalanan. Mending langsung
aja yo ke terminal, kan banyak bus to di situ. Tinggal pilih malahan, kan
gampang.” Ujar Satmoko.
“Wah kok pinter, biasannya
kamu kopong lho Sat.” Jawab Zul.
“Iya dong, Satmoko
jenius lah. Ayo cus ke sana, nunggu apalagi.” Ajak Satmoko.
Sampainya di terminal
bus, Terminah Tidar namanya, tau to. Mereka berkeliling, sampai-sampai panasnya
terminal mereka hiraukan. Dari bus jurusan antar kota, antar provinsi, sampai
antar-antaran mereka datangi satu persatu. Alangkah bahagianya mereka saat
mendapati bus yang dicari. Bus jurusan Jogja-Magelang memiliki suara klakson
yang dicari. Lagipula sopirnya ramah, bahkan mereka dipersilakan untuk sekedar
mencoba duduk di kursi kemudi.
“Pak klaksonnya Pak,
sekali saja.” Minta Zulkifly.
“Oh, ya silahkan, ini
pencet aja sendiri.” Jawab sopir akrab.
“Beneran Pak?” Tanya
Didin. Seketika raut wajahnya berubah 180 derajat.
Dengan senang hati,
Didin pertama kali yang mencoba. Sedangkan Zul, Adit, dan Satmoko hanya terdiam
melihat siap Didin yang kembali lagi ke masa kanak-kanaknya. Mereka bergantian
mencoba. Tak lupa momen itu mereka abadikan lewat kamera yang mereka bawa. Si
bapak sopir pun hanya tersenyum melihat tingkah laku keempat anak tesebut.
Beruntung rasanya hari itu bagi mereka, kalau nggak flashback yang tadi sih. Apa yang mereka inginkan telah didapat.
Cukup puas, mereka beranjak dan tak lupa berterika kasih kepada pak sopir yang
mau meminjami.
Mereka pulang dengan
raut bahagia sekali. Si Adit pun hanya terus menonton video yang telah berhasih
ia rekam. Sepanjang perjalanan pulang, Didin terlihat senyam-senyum sendiri.
Tak lupa, si Zul yang hanya berkecamuk bibirnya, entah apa yang ia nyanyikan.
Kalau Satmoko, biasa saja, apalagi Adit, matanya hanya terfokus ke kamera.
Mungkin ia akan berhenti kalau saja baterainya habis.
“Assalamu’alaikum, Bu.
Didin pulang.” Ucap Didin lantang.
“Waalaikum’salam. Dari
mana kamu Din. Pergi tinggal pergi, nggak pamitan sama yang di rumah. Kalau
kamu kenapa-napa Ibu gak tau lho.” Ibunya menasehati.
“Hehehee, cari telolet
Bu.” Didin memelas.
“Sudah sana mandi dulu,
terus salat ashar.” Tegas Ibunya.
Didin pun bergegas
menuruti perintah ibunya. Ia masih saja tersenyam-senyum sendiri.
Hari berikutnya, apa
yang mereka dapati telah terpampang di akun insragram yang masing-masing
miliki. Di situ, banyak sekali komen-komen dari teman-teman, bahkan ada yang
mau ikutan cari telolet lagi. Telolet memang
seru, hokyaa….

